Dosen UNHI Denpasar sekaligus praktisi lontar Bali, Prof Dr I Wayan Suka Yasa MS, mengungkapkan sejatinya ilmu pengetahuan apapun yang ada di dunia ini bersifat netral. Yang menjadikan terlihat baik atau buruk, positif atau negatif adalah manusianya sendiri. Serupa dengan pisau. Jika digunakan untuk memotong makanan, maka kita bisa makan. Sedangkan jika pisau digunakan untuk membunuh manusia, tentu akan negatif pula pandangan yang akan terbentuk.
Begitu juga Ilmu Leak. Rwa Bhineda atau dua hal yang berbeda dan bertentangan tapi tidak bisa dipisahkan, akan selalu ada di dunia. Karena itu, pemanfaatan ilmu pengetahuan yang sudah dikuasai tergantung pada diri masing-masing.
Ngeleak merupakan ajaran Tantra Yoga yang sudah berkembang sejak zaman kerajaan Kediri, yang kemudian dinarasikan dalam bentuk cerita Calonarang. Hingga saat ini ilmu leak masih berkembang di Bali.
Leak (Baca: Liak), menurut Suka Yasa, sesuai lontar bermakna Linggihang Aksara (Li-Ak). Linggih bermakna mendudukkan atau menempatkan. Sehingga Ilmu Leak (Liak) sesungguhnya bermakna menempatkan aksara suci ke dalam tubuh manusia. Sekali lagi, ilmu bersifat netral. Penggunaan Ilmu Leak jika dilihat sifatnya dikelompokkan menjadi tiga yakni satwika (Baik), rajasika (Ego dan keakuan) dan tamasika (Emosi buruk).
Menurut Suka Yasa, ada ribuan lontar yang terkait dengan pengleakan baik dari segi filsafat, teknis, serta sub ilmu pengleakan. Secara dasar, ia menjelaskan ada tiga tipe ilmu leak. Yakni penengen, pengiwa, dan kamoksan. Ilmu penengen adalah ilmu yang diarahkan untuk kebaikan. Biasanya digunakan oleh balian (Dukun) untuk mengobati orang sakit, membuat hubungan yang renggang kembali jadi harmonis, dan kebaikan lainnya.
Sedangkan tipe pengiwa adalah ilmu yang bersifat destruktif atau merusak dan menyakiti. Justru tipe ilmu leak inilah yang populer di Bali. Sehingga masyarakat berpandangan negatif terhadap ilmu leak. Hal ini kemungkinan karena manusia yang mempelajari ilmu leak masih memiliki ego yang tinggi. Sehingga ilmunya digunakan untuk melampiaskan emosi, dendam, kebencian dan iri hatinya. Ilmu pengiwa ini bersifat tamasika.
“Pengiwa ini justru yang populer, yang destruktif, bersifat tamasika. Padahal pengleakan tidak hanya ini. Tentu yang destruktif tidak akan dikembangkan di prodi ini. Hanya sebatas gambaran saja, bukan untuk dipraktikkan. Kita kaji dari aspek-aspek keilmuan. Sebab ilmu itu kan netral,” ungkapnya.
Sementara itu ada aspek terakhir dalam ilmu leak, yakni kamoksan atau ilmu kelepasan. Moksa dalam ajaran agama Hindu adalah tujuan hidup terakhir, yakni kebebasan dari ikatan duniawi dan putaran reinkarnasi kehidupan. Sehingga ilmu leak itu terdiri dari ilmu kawiwesan (penengen pengiwa untuk duniawi), dan ilmu kelepasan (untuk lepas dari duniawi).
“Setelah eksis di dunia, kita tidak mungkin mengingkari bahwa kita akan mati, tetapi bagaimana menuju mati yang benar. Nah, ini ada ilmu khusus yang disebut dengan ilmu kamoksan. Sehingga belajar ilmu leak yang sempurna itu ketika belajar sampai di ilmu kelepasan. Kalau belajar di tingkat kawisesan saja, akan sulit lepas dari duniawi,” imbuhnya.