Foto hanya ilustrasi. (IDN Times/Irma Yudistirani)
Beruntung biaya perawatan kedua putrinya ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia dan istrinya berjualan canang (Perlengkapan upacara keagamaan) di Jalan Kartini, Denpasar. Karena selama kedua putrinya dirawat di RSUP Sanglah, Redita sudah tidak bekerja lagi sebagai kuli bangunan di kampungnya.
"Iya jualan canang. Kalau di sini bawa janur (Bikin canang). Sorenya, jualan di (Jalan) Kartini. Kadang sehari dapat Rp40 ribu. Iya waktu itu dapat dari donatur dan kita pakai buat jualan. Iya buat makan dan sehari-hari," ungkapnya.
Selama kedua putrinya dirawat, mereka menyewa tempat indekos di Jalan Pedungan, Denpasar. Karena rumah asalnya berada di Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng. Jadi butuh waktu sekitar empat jam untuk pulang kampung.
"Kalau dulu kami menumpang sama kakak, sekarang sudah dapat kos sendiri. Iya di sini sambil jualan canang supaya bisa (Bertahan hidup)," ujar Redita.
Sementara sang ibu, Putu Ayu Sumadi, mengaku tidak kesulitan selama merawat kedua putrinya. Karena mereka sudah bisa berinteraksi dengannya. "Iya sudah bisa digendong, sudah bisa interaksi dan sudah bisa senyum-senyum," katanya.
Seperti yang diberitakan, bayi kembar dempet tersebut merupakan anak pertama dari Kadek Redita dan Putu Ayu Sumadi. Bayi tersebut lahir melalui bedah caesar di Rumah Sakit Santi Graha, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, dalam kondisi sehat. Bayi lahir dengan berat 4,2 kilogram dan panjangnya 49 centimeter, Rabu (3/7) lalu sekitar pukul 16.00 Wita.
Mereka kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah pada Kamis (4/7) sekitar pukul 17.00 Wita, untuk mendapatkan penanganan lebih intensif. Kini sang bayi masih ditempatkan di ICU ruang Cempaka RSUP Sanglah.