Sebuah rumah rusak setelah tertimpa tanah longsor di Kabupaten Madiun. (Dok.IDN Times/Istimewa)
Dari catatan mereka, sebanyak 1115 kejadian bencana terjadi di wilayah Bali sepanjang tahun 2019, dengan kerugian mencapai Rp8,7 miliar. Ini yang ditangani oleh BPBD Provinsi Bali. Ada tiga macam kejadian bencana yang terjadi di Bali di antaranya hidrometeorologi (Banjir dan tanah longsor), vulkanologi (Gunung berapi) dan geologi (Gempa bumi dengan potensi tsunami).
“Nah dari tiga itu yang dominan hidrometeorologi yang tahun 2019 sekitar 81 persen yang kami hitung. Sedangkan yang 19 persennya vulkanologi dan geologi. Jadi kalau kami lihat itu, aktivitas gunung berapinya yang tinggi tahun 2019, mulai melandai. Sedangkan di gempa bumi itu, sebenarnya banyak kejadian gempa tapi di bawah 5 Skala Richter,” terang Kepala BPBD Provinsi Bali, Made Rentin, pada Jumat (3/1).
Diakuinya, potensi banjir dan tanah longsor tinggi terjadi di bulan Januari hingga Maret pada tahun 2019 lalu. Kondisi ini dikatakan akan sama dengan tahun 2020 ini.
BPBD Provinsi Bali mencatat tahun 2019, 23 wilayah di Bali berpotensi mengalami gerakan tanahnya (Longsor) menengah hingga tinggi, dan 17 wilayah dengan potensi gerakan tanah menengah, berpotensi banjir bandang atau aliran bahan rombakan.
“Musim hujan ini yang sering terjadi di Bali longsor dan pohon tumbang. Longsor itu di daerah-daerah yang tinggi ya seperti di Bangli, Buleleng, Karangasem, Badung Utara, dan Gianyar. Kalau pohon tumbang itu karena lapuk atau struktur tanahnya ya. Langganan banjir di Jembrana dan Jalan Pura Demak Denpasar,” terangnya.